Cerita Pertama di Jogja

Puji syukur kepada Allah SWT, dengan mengucap Alhamdulillah karena masih diberikan nikmat sehat dan kesempatan untuk berbagi dengan teman-teman semua. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan di Kampus Akademi Komunikasi di Yogyakarta. Sedikit gambaran mengenai kampusku, Akademi Komunikasi Indonesia (Akindo) merupakan kampus Akademi Komunikasi satu-satunya yang ada di Yogyakarta. Di kampusku hanya ada tiga jurusan, pertama Public Relations yang merupakan jurusanku saat ini, kedua Broadcasting Radio Tv dan Film, dan yang terahkir Advertising.

Ospek dan berbagai kegiatan kampus yang masuk dalam tahap pengenalan untuk mahasiswa baru sudah aku lalui dan tanpa terasa sudah hampir satu tahun aku berada di Yogyakarta. Hari demi hari berlalu dan bisa dikatakan kehidupanku di tahun pertama ini tidak ada yang spesial.

Di Akindo aku sudah melewati dua semester, dan Inshaallah bulan september 2017  mendatang aku sudah memasuki semester ketigaku di sini. Hal pertama yang kulakukan di awal semester adalah membeli sebuah sepeda untuk aku gunakan pergi dan pulang kampus. Jarak tempat tinggal dan kampus tidak terlalu jauh dan hanya kutempuh sekitar delapan menit.

Di tahun ini untuk pertama kalinya dalam cerita rantauku memasuki bulan ramadhan hingga lebaran tidak bersama keluarga. Aku di Jawa sedangkan orang tuaku jauh di tanah Sumatra tepatnya di daerah Indragiri Hilir, Riau. Hal yang paling aku rindukan adalah sambal terasi buatan ibu yang bukan main pedasnya, karena aku memang penikmat makanan pedas. Selain itu suasana kampung memang masih menjadi hal paling aku ingat karena aku besar dan tumbuh di sana. Seniorku di sini pernah berkata kalau yang aku lalui ini belum seberapa dibandingkan dengannya yang sudah dua tahun tidak pulang ke rumah. Bisa teman-teman bayangkan bagaimana rasanya tidak bertemu  orang tua sama sekali selama itu, walaupun saat ini kecanggihan teknologi dapat kita gunakan untuk selalu berkomunikasi namun tetap tidak mampu membayar semuanya.

Lebaran di Yogyakarta terasa sangat jauh berbeda, banyak hal yang aku alami dan menjadi pengalaman yang menyenangkan juga sedikit memilukan sebenernya apalagi untuk tahun pertama. “Biasanya anak baru pasti selalu pulang untuk lebaran”, kata seniorku yang lain. Nah, teman-teman di akhir tulisan ini aku tambahkan sedikit bagaimana suasana puasa dan lebaran di Yoygyakarta sebagai mahasiswa baru.

Memasuki hari pertama puasa tempat untuk mencari makanan sahur dan berbuka masih tersedia seperti hari-hari biasa. Hingga minggu kedua bulan ramadhan satu persatu warung makan mulai melakukan penutupan menyambut hari lebaran, dan memasuki beberapa hari sebelum lebaran ini hampir semua warung makan tutup dan buka kembali satu minggu setelah lebaran. Kalaupun ada yang buka pasti menaikkan 25 hingga 50% dari harga biasanya tapi itu merupakan hal yang wajar karena mau tidak mau ini mengorbankan waktu pulang kampung mereka untuk berkumpul bersama keluarga yang sebagian besar berasal dari luar daerah.

Mungkin itu cerita tentang pengalaman satu tahun pertamaku di Yogyakarta, cerita tentang lebaran pertama murni kualami selama bulan ramadhan di sini . Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca

Wassalamualaikum wr.wb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: